Rabu, 23 Mei 2012

Menulis Itu Mudah

Banyak yang berpendapat bahwa menulis merupakan keterampilan berbahasa yang memiliki tingkat kesulitan paling tinggi. Dalam menulis, orang menggunakan berbagai aktivitas bahasa yang kompleks. Pada saat bersamaan, seorang penulis berpikir, berkomunikasi (melalui tulisannya), mengembangkan cara berpikirnya melalui tulisan, sekaligus menggunakan bahasa yang khas milik dirinya sendiri untuk berkomunikasi dengan pembacanya. Barangkali, di situlah kompleksitas dalam kegiatan menulis.

Akan tetapi, jika kita terlalu berpedoman kepada teori-teori yang banyak dikemukakan para ahli, kita tidak akan pernah bisa menulis dengan baik. Sebab, sering terjadi tulisan yang menarik dan berkesan sama sekali tidak sesuai dengan teori menulis. Sebaliknya, tulisan yang sesuai dengan kaidah keilmuan bahkan sama sekali tidak menarik. Kering dan membosankan. Apa lagi pada saat kita menulis karya fiksi.

Saran saya, jika Anda berniat menulis karya fiksi, jangan sekali-kali berpegang kepada teori-teori menulis yang rumit dan membuat kita frustrasi. Menulislah sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran Anda. Jangan kuatir salah. Kesalahan itu merupakan pengalaman yang sangat berharga. Proses belajar yang paling baik adalah belajar dari kesalahan-kesalahan yang pernah kita buat. Tidak pernah ada teori menulis karya fiksi yang benar-benar tepat. Menulis fiksi itu berekspresi. Bahasa ekspresif. 

Jadi, menulislah. Menulislah. Menulislah.